Indonesia  Bahasa   English  English
16 April 2015 11:04:06 AM

RI Layak Jadi Pusat Batik Dunia

Bisnis.com, JAKARTA--Munculnya perajin batik di berbagai daerah ditanggapi positif. Tren pemakaian batik menjadi peluang usaha yang besar yang bisa dicicipi para pelaku usaha. Bisnis mereka juga berimbas pada pertumbuhan perekonomian.

Di luar itu, dari segi yang lebih besar, tren bisnis batik ini juga dinilai bisa mengantarkan Indonesia pada cita-cita menjadi pusat batik dunia. Diharapkan banyak karya batik yang akan mengangkat kekayaan khazanah budaya Nusantara.

Menurut Ketua bidang UKM, Perempuan Pengusaha, Gender dan Urusan Sosial Apindo, Nina Tursinah, idealnya setiap provinsi punya produk tersendiri. Produknya bisa sama-sama bernama batik, tapi ada kekhasan tiap daerah yang ditonjolkan.

“Keunikan masing-masing harus ditampilkan, jadi tidak harus mencontoh dari Jawa. Sehingga Indonesia bisa menjadi pusat batik dunia yang punya beragam batik dengan arti masing-masing. Ini potensi luar biasa yang mungkin enggak dimiliki negara lain,” katanya kepada Bisnis.

Banyak perajin yang sebenarnya sudah mampu menuangkan ide menjadi batik tetapi mereka tidak bisa memproduksi sendiri di wilayahnya. Proses produksi masih dilakukan di Jawa karena minimnya fasilitas dan tenaga kerja membatik di provinsi mereka.

Demi mendorong munculnya produk batik berkualitas dari seluruh daerah, diperlukan peran pemerintah. Paling tidak yang bisa dilakukan adalah menyebarkan para ahli membatik, terutama untuk batik tulis, yang selama masih dominan di Jawa.

Selain soal produksi, perajin batik juga menghadapi tantangan persaingan dengan batik asal Jawa dan luar negeri. Menurut Nina, tak layak membandingkannya dari segi harga sebab batik Tiongkok ataupun Thailand seringkali lebih murah dengan desain yang dibuat mirip dengan yang ada di Indonesia.

Agar bisa unggul, strateginya adalah dengan bersaing dengan menggali potensi-potensi lokal yang tidak dimiliki negara lain.
“Sehingga pembeli mau membeli sesuatu yang lain daripada yang lain, bukan sekedar membeli batik tapi art-nya dari Indonesia yang tidak ada di negara lain,” ujarnya.

Soal harga, peran pemerintah juga diperlukan agar harga produksinya tidak terlalu tinggi, misalnya dengan membantu akses permodalannya, menurunkan suku bunga, menjaga persediaan bahan baku agar mudah didapat dengan harga yang stabil.
Booming Batik di berbagai daerah juga ditanggapi positif oleh desainer kondang Iwet Ramadhan.

Namun, menurutnya akan lebih baik jika pekerja kreatif di berbagai daerah tak hanya latah memproduksi batik, tetapi juga mengembangkan kain tradisional aslinya.

Daerah-daerah di Indonesia punya ciri khas kainnya masing-masing, seperti kain tenun ikat, tenun double ikat, kin songket, kain tapis, kain jumputan, kain sasirangan, kain karawang dan lain-lain.

"Kalau ditanya positif atau tidak ya positif saja, tetapi akan lebih baik kalau masing-masing daerah fokus dengan kain tradisional mereka. Saya khawatir jika mereka terlalu fokus mengembangkan batik, nanti kain tradisionalnya malah punah, " ujarnya.

Penulis buku Cerita Batik ini menyatakan batik dari luar Jawa sebenarnya cenderung baru, Budaya membatik berasal dari Jawa yang merupakan cerminan budaya kehidupan sosial, dan bagian dari sejarah.

  • RUKEMA

    Sejak 2012, RUKEMA (Rumah Kemas APINDO) dibentuk sebagai upaya APINDO untuk membantu UKM-IKM memiliki produk yang kreatif dan inovatif pada brand, service dan promotion-nya. Dengan pendekatan new ...


    Selengkapnya »
  • Galeri

  • UKEA Indonesia

    Gd. Permata Kuningan Lt. 10
    Jl. Kuningan Mulia Kav. 9c Guntur Setiabudi 12980
    Jakarta Selatan, Indonesia

    Telp : +6221 - 8378 0824
    Fax  : +6221 - 8378 0823 / 8378
    Email: denis@apindo.or.id